Aku yang nampak, yang berada tepat didekat juga disamping tempat setiap kau duduk, kursi itulah yang selalu membuat kita merasa lebih dekat dengan cara berdampingan, kita adalah 2 insan yang sedang berjuang ditengah2 cerita kasus yang harus dipecahkan, begitu didalamnya bersama partner-partner yang ikut serta didalamnya, kamu? Iya kamu, cukup cerdas aku fikir, aku? Aku hanyalah si pengingat yang mudah lupa, tapi aku si pengingat umat yang sedang lupa, lalu dia? Dia yang kau anggap hebat, begitu asik kau ajak bercengkarama dan saling menuai kata tanpa memperdulikan aku ditengahnya, aku bagai tembok penengah tak berarti diantara mereka, kenyamanan itu pun memudar, aku yang tak berdaya dan tak berguna bisa apa? Bagaikan tembok keras sebagai penghalang untuk menyampaikan sebuah pesan.
Aku bisa, aku bisa menjawab dan mengutarakan pendapat, aku selalu berusaha untuk menyampaikan yang terbaik, namun apa? Hanya suara gelitikan tawa dan cemoohan yang terlontar, semua berfikir aku tidak berguna. Aku bagai kertas kosong yang tak ada tulisannya.
Namun roda memang berputar ketika rasa cemoohan itu terngiang, kebenaran yang ku ciptakan benar-benar membuat mereka ter enga-engah, ku fikir tak bisakah sedikit saja kau dengar aku? Tak bisakah kau sedikit melirikku? Tak bisakah kau menghadirkan aku bahwa aku hadir disamping dan berada ditengah-tengah pembicaraanmu? Mungkin aku bukanlah jawaban yang tepat atas semua pertanyaanmu
Untukmu... maafkan ketidakberdayaan ini ,karna aku hanyalah insan yang tak berarti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar