Sabtu, 28 Mei 2016

Aku bisa apa ?

Aku yang nampak, yang berada tepat didekat juga disamping tempat setiap kau duduk, kursi itulah yang selalu membuat kita merasa lebih dekat dengan cara berdampingan, kita adalah 2 insan yang sedang berjuang ditengah2  cerita kasus yang harus dipecahkan, begitu didalamnya bersama partner-partner yang ikut serta didalamnya, kamu? Iya kamu, cukup cerdas aku fikir, aku? Aku hanyalah si pengingat yang  mudah lupa, tapi aku si pengingat umat yang sedang lupa, lalu dia? Dia yang kau anggap hebat, begitu asik kau ajak bercengkarama dan saling menuai kata tanpa memperdulikan aku ditengahnya, aku bagai tembok penengah tak berarti diantara mereka, kenyamanan itu pun memudar, aku yang tak berdaya dan tak berguna bisa apa? Bagaikan tembok keras sebagai penghalang untuk menyampaikan sebuah pesan.
Aku bisa, aku bisa menjawab dan mengutarakan pendapat, aku selalu berusaha untuk menyampaikan yang terbaik, namun apa? Hanya suara gelitikan tawa dan cemoohan yang terlontar, semua berfikir aku tidak berguna. Aku bagai kertas kosong yang tak ada tulisannya.
Namun roda memang berputar ketika rasa cemoohan itu terngiang, kebenaran yang ku ciptakan benar-benar membuat mereka ter enga-engah, ku fikir tak bisakah sedikit saja kau dengar aku? Tak bisakah kau sedikit melirikku? Tak bisakah kau menghadirkan aku bahwa aku hadir disamping dan berada ditengah-tengah pembicaraanmu? Mungkin aku bukanlah jawaban yang tepat atas semua pertanyaanmu

Untukmu... maafkan ketidakberdayaan ini ,karna aku hanyalah insan yang tak berarti.

Jumat, 27 Mei 2016

Ke-khawatiranku mengganggumu

Saat ke khawatiran ini mengganggumu.... fyuuuuuh *helaan nafas yang dalam* wohoooo perasaan apakah ini? Begitu sesak rasanya, terasa terhimpit diruang sempit yg kosong dan hening, pelosok amat terpelosok jauh rasanya raga ini jatuh, ketika kepedulian ini muncul tidak pada waktunya, ketika khawatir ini tidak pada tempatnya, apakah salah dengan  apa yang dirasakan saat ini? Apakah tidak boleh aku se agresif ini ketika merasakan ketakutan yang mendalam? Bodoh memang jika rasa ini muncul tanpa sebab yang pasti, tanpa alasan yang benar-benar bisa dijadikan alasan. Penyesalan? Ya, penyesalan datang ketika rasa itu telah terungkap dalam sepatah dua patah kata , se-paraghraf cerita yang telah diceritakan, namun. Lega sudah beban yang ada di benak ini, terangkat sudah beban yang kian semakin memberatkan dan menyesakan, kini terbiasalah sudah perasaan yang membuat kacau hanya dalam hitungan menit, bebaslah sudah raga ini seakan akan tidak peduli lagi dengan ke khawatiran yang tercipta....